Tampilkan postingan dengan label rencana pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rencana pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 April 2011

Pemberian Motivasi Guru dalam Pembelajaran

Abstrak
Pemberian motivasi guru dalam pembelajaran dapat terdiri atas Pemberian Penghargaan, yang dapat menumbuhkan inisiatif, kemampuan-kemampuan yang kreatif dan semangat berkompetisi yang sehat, pemberian penghargaan sebagai upaya pembinaan motivasi tidak selalu harus berwujud atau barang, tetapi dapat juga berupa pujian-pujian dan hadiah-hadiah im-material. Pemberian perhatian yang cukup terhadap siswa dengan segala potensi yang dimilikinya merupakan bentuk motivasi yang sederhana, karena banyak yang tidak memiliki motivasi belajar diakibatkan tidak dirasakannya adanya perhatian. Ajakan Berpartisipasi. Pada diri manusia ada sesuatu perasaan yang dihargai apabila dia dilibatkan pada sesuatu kegiatan yang dianggap berharga. Oleh karena itu guru, harus selalu mengajak dan mengulurkan tangan bagi siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran guna lebih bergairah dalam belajar dan memperkaya proses interaksi antar potensi siswa dalam proses pembelajaran.
A. Pendahuluan
Kegiatan pembelajaran yang melahirkan interaksi unsur-unsur manusiawi adalah sebagai suatu motivasi dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Belajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun makna dan pemahaman.
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utamanya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik dalam jalur formal. Guru dalam menjalankan fungsinya diantaranya berkewajiban untuk menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dialogis, dan memberikan motivasi kepada siswa dalam membangun gagasan, prakarsa, dan tanggung jawab siswa untuk belajar.
Motivasi yang timbul dari dirinya untuk berbuat sesuatu muncul secara kodrati dari diri manusia itu sendiri disebut motivasi intrinsik, sedangkan manusia yang menyebabkan mampu melaksanakan tugas dengan maksimal karena ada dorongan dari luar disebut motivasi ekstrinsik.
Dengan demikian guru diharapkan merupakan orang yang karena profesinya sanggup menimbulkan dan mengembangkan motivasi untuk kepentingan proses aspek-aspek pembelajaran di dalam kelas yang keberadaan siswanya berbeda-beda secara individual, misalnya perbedaan minat, bakat, kebutuhan, kemampuan, latar belakang sosial dan konsep-konsep yang dipelajari.
Dengan motivasi dari guru merupakan faktor yang berarti dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Dua pembangkit motivasi belajar yang efektif adalah keingintahuan dan keyakinan dalam kemampuan diri. Setiap siswa memiliki rasa ingin tahu, maka guru perlu memotivasi dengan pertanyaan diluar kebiasaan atau tugas yang menantang disertai penguatan bahwa siswa mampu melakukannya. Dengan demikian salah satu upaya guru yaitu memberikan motivasi kepada siswa dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.
B. Pengertian Motivasi
pengertian motivasi menurut kamus bahasa indonesia adalah dorongan yang timbul dalam diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan tindakan, tujuan tertentu.
Menurut E. Kusmana Fachrudin (2000:44) motivasi dibedakan atas dua golongan yaitu :
1. Motivasi Asli. Motivasi asli adalah motivasi untuk berbuat sesuatu atau dorongan untuk melakukan sesuatu yang muncul secara kodrati pada diri manusia.
2. Motivasi Buatan. Motivasi buatan adalah motivasi yang masuk pada diri seseorang baik usaha yang disengaja maupun secara kebetulan.
Sejalan dengan pendapat Irianto (1997:247), motivasi eksternal adalah setiap pengaruh dengan maksud menimbulkan, menyalurkan atau memelihara perilaku manusia. Dipertegas oleh Mulia Nasution (2000:11), motivasi dari luar adalah pembangkit, penguat, dan penggerak seseorang yang diarahkan untuk mencapai tujuan.
Dari beberapa pendapat diatas maka, jelas motivasi merupakan faktor yang berarti dalam mendorong seseorang untuk menggerakkan segala potensi yang ada, menciptakan keinginan yang tinggi serta meningkatkan semangat sehingga tujuan yang diinginkan dapat tercapai.
C. Motivasi Guru Dalam Pembelajaran
Motivasi yang sengaja dibentuk oleh orang luar dalam hal ini guru dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain :
1. Pemberian Penghargaan. Dengan pemberian penghargaan ini dapat besifat positif karena dapat menumbuhkan inisiatif, kemampuan-kemampuan yang kreatif dan semangat berkompetisi yang sehat, pemberian penghargaan sebagai upaya pembinaan motivasi tidak selalu harus berwujud atau barang, tetapi dapat juga berupa pujian-pujian dan hadiah-hadiah im-material.
2. Pemberian Perhatian. Pemberian perhatian yang cukup terhadap siswa dengan segala potensi yang dimilikinya merupakan bentuk motivasi yang sederhana, karena banyak yang tidak memiliki motivasi belajar diakibatkan tidak dirasakannya adanya perhatian.
Sebagaimana yang dijelaskan Dimyati dan Mudjiono (2002:42) prinsip-prinsip yang berkaitan dengan perhatian dan motivasi pembelajaran yaitu perhatian merupakan peranan penting dalam kegiatan belajar. Dari kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tidak mungkin adanya pembelajaran. Perhatian akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya, apabila bahan pelajaran dirasakan sebagai suatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih lanjut atau diperlukan sehari-hari akan membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya. Apabila perhatian alami ini tidak ada, maka siswa perlu dibangkitkan perhatiannya.
3. Ajakan Berpartisipasi. Pada diri manusia ada sesuatu perasaan yang dihargai apabila dia dilibatkan pada sesuatu kegiatan yang dianggap berharga. Oleh karena itu guru, harus selalu mengajak dan mengulurkan tangan bagi siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran guna lebih bergairah dalam belajar dan memperkaya proses interaksi antar potensi siswa dalam proses pembelajaran.
Selain hal-hal diatas, untuk membangkitkan motivasi yang efektif adalah melalui prnsip-prinsip motivasi dalam belajar. Setiap siswa memiliki rasa ingin tahu, oleh karena itu guru memberikan penguatan bahwa siswa pasti bisa.
Prinsip-prinsip motivasi dalam belajar adalah sebagai berikut :
1. Kebermaknaan. Siswa akan termotivasi untuk belajar jika kegiatan dan materi belajatr dirasa bermakna bagi dirinya. Keberadaan lazimnya terkait dengan bakat, minat, pengetahuan, dan tata nilai siswa.
2. Pengetahuan dan keterampilan Prasyarat. Siswa akan dapat belajat dengan baik jika dia telah menguasai semua prasyarat baik berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Oleh karena itu, siswa akan menggunakan pengetahuan awalnya untuk menafsirkan informasi dan pengalamannya. Penafsiran itu akan membangun pemahaman yang dipengaruhi oleh pengetahuan awal itu. Dengan demikian, guru perlu memahami pengetahuan awal siswa untuk dikaitkan dengan bahan yang akan dipelajarinya. Sehingga membuat belajar menjadi lebih mudah dan bermakna.
3. Model. Siswa akan menguasai keterampilan baru dengan baik jika guru memberikan contoh dan model untuk dilihat dan ditiru.
4. Komunikasi Terbuka. Siswa akan termotivasi untuk belajar jika penyampaian dilakukan secara terstuktur sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa sehingga pesan pembelajaran dapat dievaluasi dengan tepat.
5. Keaslian dan Tugas yang Menantang. Siswa akan termotivasi untuk belajar jika mereka disediakan materi, kegiatan baru atau gagasan murni/asli (novelty) dan berbeda. Kebaruan atau keaslian gagasan akan menambah konsentrasi siswa pada pembelajaran. Hal ini berpengaruh pada pencapaian hasil belajar. Konsentrasi juga dapat bertambah bila siswa menghadapi tugas yang menantang dan sedikit melebihi kemampuan. Sebaliknya bila tugas terlalu jauh dari kemampuan, akan terjadi kecemasan, dan bila tugas kurang dari kemampuan akan terjadi kebosanan.
6. Latihan yang Tepat dan Aktif. Siswa akan dapat menguasai materi pembelajaran dengan efektif jika KBM memberikan kegiatan latihan yang sesuai dengan kemamapuan siswa dan siswa dapat berperan aktif untuk mencapai kompetensi yang diharapkan.
7. Penilaian Tugas. Siswa akan memperoleh pencapaian belajar yang efektif jika tugas dibagi dalam rentang waktu yang tidak terlalu panjang dengan frekuensi pengulangan yang tinggi.
8. Kondisi dan Konsekuensi yang Menyenangkan. Siswa akan belajar dan terus belajar jika kondisi pembelajaran dibuat menyenangkan, nyaman dan jauh dari perilaku yang menyakitkan perasaan siswa. Belajar melibatkan perasaan. Suasana belajar yang menyenangkan sangat diperlukan karena otak tidak akan bekerja optimal bila perasaan dalam keadaan tertekan. Perasaan senang biasanya akan muncul bila belajar diwujudkan dalam bentuk permainan khususnya pendidikan usia dini. Selanjutnya bermain dapat dikembangkan menjadi eksperimentas yang lebih tinggi.
9. Keragaman Pendekatan. Siswa akan belajar jika mereka diberi kesempatan untuk memilih dan menggunakan berbagai pendekatan dan stategi belajar. Pengalaman belajar tidak hanya berorientasi pada buku teks tetapi juga dapat dikemas dalam berbagai kegiatan praktis seperti proyek, simulasi, drama dan atau penelitian/pengujian.
10. Mengembangkan Beragam Kemampuan. Siswa akan belajar secara optimal jika pelajaran disajikan dapat mengembangkan berbagai kemampuan seperti kemampuan logis matematis, bahasa, musik, kinestetik, dan kemampuan inter maupun intra personal. Tiap siswa memiliki lebih dari satu kecerdasan yang meliputi kecerdasan : musik, gerak badan (kinestetik), logika-matematika, bahasa, ruang, intra pribadi, dan antar pribadi. Sekolah perlu menyediakan berbagai pengalaman belajar yang memungkinkan kecerdasan itu berkembang; sehingga anak dengan berbagai kecerdasan yang berbeda dapat terlayani secara optimal.
11. Melibatkan Sebanyak Mungkin Indera. Siswa akan menguasai hasil belajar dengan optimal jika dalam belajar siswa dimungkinkan menggunakan sebanyak mungkin indera untuk berinteraksi dengan isi pembelajaran.
12. Keseimbangan Pengaturan Pengalaman Belajar. Siswa akan lebih menguasai materi pembelajaran jika pengalaman belajar diatur sedemikian rupa sehingga siswa mempunyai kesempatan untuk membuat suatu refleksi penghayatan, mengungkapkan dan mengevaluasi apa yang dia pelajari.
D. Kesimpulan
1. Guru adalah merupakan orang yang karena profesinya sanggup menimbulkan dan mengembangkan motivasi untuk kepentingan proses pembelajaran di kelas sehingga tercapai tujuan pembelajaran dengan cara: pemberian penghargaan, pemberian perhatian, dan ajakan berpartisipasi.
2. Prinsip-prinsip motivasi dala pembelajaran, teridiri atas: kebermaknaan, pengetahuan dan keterampilan prasyarat, model, komunikasi terbuka, keaslian dan tugas yang menantang, latihan yang tepat dan aktif, penilaian tugas, kondisi dan konsekuensi yang menyenangkan, keragaman pendekatan, mengembangkan beragam kemampuan, melibatkan sebanyak mungkin indera, dan keseimbangan pengaturan pengalaman belajar.

Daftar Pustaka
Dimyati, Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Bandung. PT Rineka Cipta
Depdiknas. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta
E. Kusmana, Pachrudin. 2000. Asas, strategi-metode. UPI. Bandung
Irianto. 1997. Edisi Kedua. Pengantar Manajemen. IBII STIE. Jakarta
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1997. Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Balai Pustaka. Jakarta
Mulia Nasution. 2000. Manajemen Modern. Pionir Jaya. Bandung
Otong Kardisaputra. Belajar dan Pembelajaran. FKIP Unla. Bandung
Sardiman. 2000. Interaksi dan Motivasi Belajar. Grafindo Persada. Jakarta
sumber: berbagai media Onlne

Minggu, 13 Maret 2011

RENCANA PEMBELAJARAN SENI RUPA DI SEKOLAH DASAR

Maman Tocharman-karacca01,2011

PENDAHULUAN
Salah satu fungsi sekolah dasar sebagai sarana sosialisasi bagi para siswanya, juga sebagai tempat membina agar lulusannya memiliki kemampuan yang bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan kognitif dan kemampuan lainnya untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan saat ini dan masa mendatang. Sejalan dengan rumusan tujuan pendidikan sekolah dasar yang mencakup peningkatan motivasi siswa untuk untuk meneruskan belajar pada jenjang yang lebih tinggi dan memperoleh dasar keterampilan, pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat bagi siswa, dan mengolah emosi siswa agar memperoleh kematangan guna mewujudkan kesiapan belajar. Sesuai dengan tujuan tersebut maka pengembangan program pendidikan harus memperhatikan kebutuhan siswa secara individual atau kelompok dan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian pendekatan belajar melalui materi muatan lokal perlu dikembangkan selain muatan inti program. Proses pembelajaran di sekolah dasar lebih menekankan pada penemuan fakta, gejala dan konsep-konsep tertentu. Pembelajaran dilakukan dengan pendekatan induktif, siswa belajar melalui pengalaman empirik. Dengan pembelajaran melalui cara tersebut, pengamatan, interpretasi, perkiraan, eksperimen, serta penerapan kosep-konsep yang terkait dengan kebutuhan dalam kehidupan siswa akan memotivasi siswa untuk berbuat, mencarai dan menemukan.

Merupakan suatu harapan yang terwujud, bahwa kemampuan siswa dapat dikembangkan secara optimal perlu dilatihkan berbagai model cara belajar. Cara belajar induktif melatih siswa untuk menjadi manusia yang kreatif dan inovatif. Sedangkan cara belajar deduktif melatih siswa menjadi logis dan kritis. Cara belajar yang mengaktifkan siswa agar melatih kemandirian siswa dan mengetahui hakekat belajar yang sebenarnya. Berpikir kritis dan kreatif dapat meningkatkan berbagai kemampuan intelektual anak. Sikap kritis sangat dibutuhkan untuk mencari kebenaran fakta, teori dan konsep berdasarkan pembuktian yang logis. Selain itu berpikir kritis sangat diperlukan manusia untuk memecahkan berbagai masalah dalam kehidupan. Hanya orang yang kritislah yang dapat segera dapat memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan. Guru dalam proses pembelajaran harus dapat menciptakan iklim belajar yang menantang siswa untuk berpikir kritis dan logis. Merupakan harapan, pendidikan mencapai hasil yang optimal, untuk kepentingan tersebut guru perlu menghayati perkembangan anak yang berkaitan dengan kemampuan dasar. Kemampuan dasar tersebut meliputi: kemampuan fisik, sensori-motorik, emosional, sosial, perseptual, intelektual dan kreativitas. Dengan demikian dalam menentukan materi, metoda, media dan pendekatan pembelajaran sangat perlu memperhatikan perkembangan kemampuan yang dimiliki siswa, agar hasil belajar siswa yang optimal dapat tercapai. Perlu diingat pula oleh para guru, bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Artinya anak suka bermain, atau bermain merupakan kebutuahan bagi anak. Bila anak diajak belajar melalui kebutuhannya dan sesuatu yang disukainya anak akan menjadi senang belajar. Dengan modal kesenangan inilah, harapan pengajaran yang optimal dapat diraih. Melalui bermain anak belajar memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap serta kemampuan lainnya. Bermain bersipat menyenangkan sehingga segala sesuatu yang diperoleh melalui bermain akan dirasakan menyenagkan dan sesuai dengan kebutuhan anak, serta membekas pada diri anak sehingga hasil belajar tidak mudah dilupakan.
Mata pelajaran yang sesuai dengan pendekatan bermain ini diantaranya melalui pembelajaran kerajinan tangan dan kesenian, yang dalam kurikulumtahun 2006 disebut mata pelajaran seni dan budaya. Bukan berarti bahwa bahwa pembelajaran dengan pendekatan bermain hanya cocok untuk mata pelajaran kesenian saja, mata pelajaran lainpun sangat mungkin dapat disampaikan melalui pendekatan bermain yang disukai anak. Bila guru dapat mengemas pembelajaran di sekolah dasar dengan pendekatan bermain, niscaya pembelajaran di sekolah dasar menjadi pembelajaran yang digandrungi para siswanya. Proses pembelajaran pendidikan seni termasuk di dalamnya pendidikan seni rupa harus lebih memperhatikan kepentingan/kebutuhan peserta didik. Materi yang diajarkan harus dirasakan merupakan kebutuhan individu anak. Juga harus diingat bahwa materi yang dikembangkan harus dapat mengembangkan secara optimal potensi anak. Pernyataan di atas sebagai landasan yang memperkuat sehingga pembelajaran di sekolah dasar menggunakan pendekatan terpadu. Pembelajaran terpadu merupakan pendekatan dalam kegiatan pembelajaran yang lebih mengutamakan kebermaknaan materi pelajaran bagi siswa.. Seperti yang dikemukakan Kamaril dalam Pendidikan Seni Rupa dan Kerajinan bahwa: “Dalam Pembelajaran terpadu digunakan tema atau topik tertentu sebagai pusat minat siswa. Pusat minat ini merupakan pengikat keterpaduan untuk membentuk suatu konsep yang bermakna dan relevan dengan konsep yang ditentukan” (Bredekamp dalam Kamaril, 1999: 1.43). Pada bahan Belajar Mandiri 3 Anda akan mempelajari Rencana Pembelajaran Seni Rupa di Sekolah Dasar. Materi tersebut dibagi menjadi tiga mata pelajaran, yaitu: 1) Konsep Rencana Model Pembelajaran Terpadu, 2) Rancangan Model Pembelajaran Terpadu, 3) Implementasi Rancangan Model Pembelajaran Terpadu Di Sekolah Dasar. Setelah Anda mempelajari Bahan Belajar Mandiri ini, diharapkan Anda dapat:
1. Menjelaskan konsep pembelajaran terpadu
2. Mengemukakan alas an dasar pelaksanaan konsep pembelajaran terpadu di sekolah dasar
3. Membedakan konsep pembelajaran terpadu (terkait, terjala dan terpadu penuh)
4. Menguraikan tahapan proses rancangan pembuatan model pembelajaran terpadu (terkait, terjala, dan terpadu penuh)
5. Menguraikan perbedaan keunggulan dan kelemaha model pembelajaran terpadu (terkait, terjala dan terpadu penuh)